Pendekar Lingkungan Pelopor Kelola Sampah Terintegrasi-(Siti Salamah)

Siti Salamah dan Anak-Anak Pemulung 

Tahun lalu ketika libur hari raya di jalan Raden Patah, Ciledug, Tangerang terjadi tumpukan sampah satu kilometer berjajar di pembatas jalan hingga menyebabkan 33 armada dikerahkan. Aktivitas manusia hampir setiap hari selalu menghasilkan sampah. Seperti peristiwa di Tangerang tersebut menunjukan bahwa sampah harus dikelola dengan baik. Menyadari atau tidak sejatinya setiap manusia berkontribusi terhadap masalah sampah. Oleh sebab itu perlunya kolaborasi semua pihak untuk menuntaskan masalah sampah. Pemulung adalah tulang punggung ekonomi sirkular, yang bekerja keras menyandang keranjang ransel terbuat dari bambu di punggung, pengumpul limbah rumah tangga kita. 
Potret Seorang Anak Belajar Memilah Sampah. (Sumber: Waste Hub Solution)

Ekonomi sirkular merupakan sebuah alternatif sistem yang berfokus pada reducing, reusing, dan recycling yang mengarah pada pengurangan konsumsi sumber daya primer dan produksi limbah. Transformasi menuju ekonomi sirkular atau lebih dikenal dengan industri hijau menjadi penting bagi Indonesia karena membawa banyak dampak positif, baik bagi lingkungan serta pertumbuhan pembangunan di berbagai sektor di masa depan.

Selain dapat meningkatkan pertumbuhan PDB Indonesia, penerapan konsep ekonomi sirkular dapat berpotensi menghasilkan 4,4 juta tambahan lapangan pekerjaan, dimana tiga perempatnya dapat memberdayakan perempuan dengan kesempatan yang lebih baik pada tahun 2030. Namun demikian tantangannya adalah kesiapan teknologi dan kelembagaannya. 

Siti Salamah dan Inovasi Waste Solution Hub
Perempuan, anak-anak, bahkan lansia dengan baju seadanya menyandang keranjang bambu, di tengah teriknya panas. Kelompok pemulung yang lain mencari-mencari sampah anorganik yang bernilai ekonomi. Bau sampah menyengat di perkampungan pemulung terkesan kumuh. Pengait, sarung tangan, dan sepatu sandal seadanya kadang tak sepasang menjadi kelengkapan mereka. Namun demikian mereka tak patah semangat. 


Seorang sukarelawan Waste Solution Hub mewawancarai pendapatan pemulung. Dari hasil wawancara diketahui bahwa pendapatan pemulung yang bekerja dari pagi hingga petang bila beruntung mendapat Rp 50.000, dengan pendapatan itu hanya cukup untuk makan sehari dan keluarganya. Siti Salamah bersama rekannya mendirikan Waste Solution Hub dengan tujuan memberi kesejahteraan pemulung. Jejak awal Siti Salamah di kampung pemulung adalah menggerakkan Magrib Mengaji di lingkungan komunitas pemulung Jurang Mangu, Tangerang Selatan pada bulan Maret tahun 2015 yang kemudian diberi nama gerakan Taman Magrib Mengaji. Gerakan awal itu mulanya untuk mengajarkan anak-anak pemulung mengaji namun justru menjadi motivasi Siti Salamah dan rekannya merangkul anak-anak pemulung memiliki pendidikan yang lebih baik. Selain itu fokus program menjadi lebih besar yakni untuk kesejahteraan pemulung. 

"Tidak hanya Jurang Mangu saja, ada banyak pemulung di seluruh Indonesia yang Waste Hub tangani. Waste Hub Solution ini sebenarnya basisnya adalah pada pengelolaan sampah. Karena dia hub dengan kata lain adalah pusat penghubung lebih kepada kolaborasi banyak pihak. Namun, memang fokus kami bermitra dengan pemulung. Tidak ada yang tinggi dan rendah, semua kami anggap sama, yakni mitra" terang Siti Salamah.  

Siti Salamah lahir tahun 1988 berasal dari Lampung, dan menempuh pendidikan yang kiranya berbeda latar dengan aktivitas yang ia geluti saat ini. Siti Salamah mengenyam pendidikan Audiologi di Jakarta yang berkecimpung pada aktivitas kesehatan pendengaran. Namun demikian kiprahnya selama enam tahun di komunitas pemulung tidak berhenti begitu saja. Sejak 2015 hingga kini Siti Salamah membina 1222 pemulung yang tersebar di kawasan Jurang Mangu Tangerang Selatan. Ketangkasan Siti Salamah dalam membina pemulung didaulat menjadi Chief Operating Officer di Waste Solution Hub. 

Model kelola Waste Solution Hub sendiri adalah memotong proses-proses yang bisa dipersingkat. Selama ini sampah dari rumah diambil pemulung diberikan ke lapak ke tempat lebih besar melewati empat hingga lima pengepul besar. Secara tidak langsung Waste Hub berusaha memotong lapisan proses itu. 

Bila dicontohkan harga plastik umumnya dua ribu rupiah per kilogram sedangkan di industri besar bisa sampai lima ribu per kilogram. Dapat dibayangkan margin tersebut dua kali lipat. Waste Solution Hub berusaha untuk menjadi penghubung supaya lapisan-lapisan proses tersebut di rampingkan sehingga margin itu menambah pendapatan pemulung. 

Waste Solution Hub sebenarnya diprakarsai empat rekan salah satunya Ranitya Nurlita hasil buah pikirnya mengelilingi 21 negara. Usia pemulung yang diberdayakan berkisar 2-25 tahun, mereka merupakan anak-anak yang diberdayakan oleh Waste Solution Hub dengan membantu meningkatkan taraf pengetahuan dan pendidikan lebih baik. Selain itu, Waste Solution Hub juga membantu meningkatkan perekonomian masyarakat pemulung.

Sejak tahun 2019 Waste Solution Hub meluncurkan Program Drive Thru terbaru untuk membantu mengedukasi masyarakat tentang kelola sampah. Sistem kerja Drive Thru Waste Hub adalah pemulung menerima orderan pick up sampah, kemudian melakukan penjemputan sesuai dengan alamat yang dituju. Hingga hari ini Waste Solution Hub telah menyalurkan 3066 paket donasi dengan mengikutsertakan 23.435 partisipan.

Memilah: Kunci Awal Kelola Sampah 
Mobil pikap dengan bak kosong bergerak ke alamat Bintaro. Siti Salamah bersama sukarelawan menjemput sedekah sampah. Rupanya di halaman rumah ibu Ayu telah berjajar tumpukan mainan bekas, beberapa kardus, dan perabotan yang tidak terpakai. Kali ini Siti Salamah mensosialisasikan program Sedekah Sampah Drive Thru ke masyarakat. Mengajak ibu-ibu rumah tangga bila perlu satu kompleks perumahan untuk bersedekah sampah. Perabotan bekas ibu Ayu telah tersusun rapi di atas pikap, pikap siap meluncur membawa secercah kebahagiaan untuk bapak-bapak pemulung yang siap bekerja memilah. 


"Sepertinya daur ulang dan memilah sampah sudah sering dibicarakan, namun masih banyak yang abai untuk membiasakan memilah. Banyak ibu-ibu yang bingung nih sampah nya mau dikemanakan?Nah sedekah sampah itu salah satu cara menghadirkan banyak kebahagiaan. Karena dengan sampah itu bisa diuangkan. Lalu sedekah sampah tadi bisa menjadi sumber pemasukan juga untuk pemulung. Kuncinya memilah!" Siti Salamah menerangkan. 

Masalah sampah dan lingkungan tidak memiliki hubungan apakah dia kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak berpendidikan. Tetapi masalah tingkah laku (behaviour). betapa tidak, kerusakan lingkungan karena sampah justru akan berdampak terlebih dahulu kepada warga yang miskin.

Seperti yang kita ketahui sampah itu menghasilkan metana dan karbon. Anggap saja tanpa memilah sampah, sampah dibawa langsung masuk TPA maka kontribusi tumpukan sampah itu akan menjadi karbon dan metana. Gas metana menjadi penyebab kerusakan lapisan ozon. Pembakaran sampah di TPA juga akan menghasilkan gas rumah kaca seperti CO2, N2O, NOx, NH3, dan karbon organik. Dengan memilah sampah dan menggunakan jasa Waste Solution Hub maka menurunkan 10 kali lipat karbon. 

Founder Waste Solution Hub menjelaskan, "Ibarat anak, pertumbuhan Waste Hub ini masih dalam tahap merangkak dan belajar berdiri. Waste Solution Hub adalah bentuk gerakan. Namun gerakan tidak greget apabila hanya ada gerakan saja. Kami ingin mendorong perubahan dalam kelola sampah di lingkungan terdekat. Behaviour Change bagaimana gerakan ini dilakukan dirumah tangga, sekolah, perkantoran dan sebagainya. Tapi ini hanya menyelesaikan di hulu saja. Kami ingin menyelesaikan masalah sampah juga pada titik hilir. Business Social Model Valuable kami adalah koneksi berusaha untuk menyatukan berbagai macam penghubung. Kita ingin menghubungkan semua solusi dan fokus di bidang persampahan".

Empower Komunitas Pemulung
"Strategi Bisnis Waste Solution Hub awalnya adalah mengambil (sampah) dari event-event. Hampir 100 event terjadi di Jakarta. Hampir 8 jenis sampah kami terima dan kami berkolaborasi dengan banyak pihak," terang salah satu sukarelawan Waste Hub Solution. Pemulung berseragam kaos hijau rapi memadati ruang event, dengan tangkas membersihkan dan mengumpulkan sampah-sampah event. 

"Sebelum ada Covid-19 lumayan mudah pemasukan, tetapi setelah ada Covid-19 semakin sulit. Mau apa-apa susah. Mau keluar kan tidak boleh. Kantor-kantor pada tutup. Harga plastik anjlok. Harga kardus saja Rp 1100 menjadi Rp 800 dengan alasan pabrik tutup" terang pemulung di lapak Sriwijaya. 

Selama pandemi karena pembatasan wilayah dan gerak, Jakarta menjadi mati suri. Event pun tak ada pergerakan Akhirnya jasa Waste Solution Hub selama Covid-19 adalah bekerjasama dengan menjual sampah di institusi. Pick Up Service gratis diberikan bagi mitra yang memiliki minimal 5kg. Waste Solution Hub juga memberikan nilai jasa yang transparansi yang dapat dihitung. 

"Kami juga mengedukasi sekolah-sekolah. Strategi selama pandemi kegiatan kami adalah menggunakan platform Instagram, disana kami menggunakan, training kompos, training jelantah jadi sabun. Saat pandemi pendapatan pemulung sangat minim. Kami akhirnya berusaha untuk distribusi sembako paket sembako untuk pemulung bekerjasama dengan banyak pihak. Prinsip kami supaya pemulung bisa ada logistik per bulan. Karena selama Covid-19 pendapatan mereka menurun," terang founder Waste Solution Hub. 

Senyum Menatap Masa Depan: Pendidikan Anak-Anak Pemulung
Jakarta setiap hari menghasilkan 8000 ton sampah. Setiap hari pula sampah yang dibuang oleh warga Jakarta, berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). TPA tak hanya menjadi tempat pembuangan sampah, namun juga menjadi tempat mencari penghidupan bagi komunitas pemulung. Di komunitas pemulung inilah berdiri rumah tempat tinggal yang terbuat dari bahan-bahan bangunan seadanya. Gerobak, pengait, dan keranjang adalah alat bekal pemulung. Di antara gang-gang rumah tersebut terdapat anak-anak berjibaku dengan plastik-plastik mineral. Siti Salamah menyatakan, "kalau seperti mereka yang sudah sangat ahli memilah sampah dengan merem aja mereka tau dan dapat memilah". 

Suasana Perkampungan Pemulung Jurang Mangu

Usia anak-anak itu cukup belia untuk membantu orangtua mereka. Namun, memilah sampah sama seperti sedang bermain yang menghasilkan untuk mereka. Dari 3,7 juta pemulung diketahui hanya 10% yang dapat mengakses pendidikan. Bagi Siti Salamah anak-anak berhak mendapatkan pendidikan, pun demikian pendidikan itu berfokus pada pembentukan kesadaran dan kepribadian pribadi disamping transfer pengetahuan. 

Ketika senja tiba, anak-anak berkumpul di mushola untuk melaksanakan sholat berjamaah dan mengaji. Tawin, seorang anak remaja yang berada di mushola berbincang dengan Siti Salamah. Dia menerangkan senang dengan keberadaan kakak-kakak sukarelawan Waste Solution Hub. Awalnya Tawin putus sekolah, berkat arahan Siti Salamah, Tawin bisa melanjutkan sekolah. 

"Dari gerakan ini kami berharap banyak bermunculan anak-anak marginal hebat yang mampu bersaing dengan dunia luar dengan keahlian, kecerdasan dan Inovasi yang luar biasa. Karena kami yakin semua anak marginal pun, berhak merangkai mimpi dalam jenis apapun dan tugas kami dari Waste Hub hanyalah sebagai perantara untuk mereka meraih mimpinya. Dan semoga kelak saat mereka mampu meraih mimpinya. Kami berharap anak-anak marginal ini mampu bermanfaat baik bagi keluarga, agama, negara serta sekitarnya," harap Siti. 

Mushola seperti pusat peradaban anak-anak pemulung. Di mushola pula lah Siti mendirikan Rumah Pohon atau yang lebih dikenal dengan program Magrib Mengaji. Mushola itu terletak diantara gang sempit dengan tumpukan karung-karung sampah pilahan. Seorang anak perempuan berhijab tergopoh membopong plastik besar berisi mukena dan sajadah. Sajadah dan mukena itu tampak bersih dan wangi. "Ini sudah empat tahun tidak dicuci" seloroh salah satu anak. Anak-anak lain tergelak-gelak mendengar pernyataan itu. Selain pendidikan, tema kesehatan dan kebersihan lingkungan menjadi denyut aktivitas anak-anak pemulung. Siti Salamah mendorong anak-anak untuk meraih mimpinya, dengan modal kerja keras, doa dan keyakinan nilai-nilai selalu ditanamkan. 

Banyak penghargaan yang telah diraih Siti Salamah. Terutama kiprahnya berhasil menjuarai ajang penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2021. Ajang 12th SATU Indonesia Awards 2021 itu mengusung tema ‘Semangat Melaju Bersama’. Adapun tema tersebut sejalan dengan tajuk peringatan Hari Sumpah Pemuda 2021, yakni ‘Bersatu, Bangkit, dan Tumbuh’.Di kancah itu pula lah sebelas pemuda harapan masa depan memberikan sumbangsih terbaiknya untuk Indonesia. 

Waste Solution Hub di masa datang memiliki target 10.000 mitra pemulung, meningkatkan pendapatan pemulung sebanyak 100 persen, mengelola 1.000 ton sampah per hari, menghasilkan lebih dari 1.000 produk daur ulang dan mengembangkan lebih dari 10 area pusat daur ulang dan pembelajaran di seluruh Indonesia. 

"Kedepan kami berharap memiliki recycle center sendiri" harap Siti Salamah. Perlahan tapi pasti satu persatu harapan Siti, Waste Hub, dan para pemulung mulai terkabulkan wujudkan lingkungan Indonesia lebih sejahtera bersih dan bahagia. 
Aku Cinta Indonesia (Sumber: Waste Hub Solution)

Penulis: Yonara Intan 


Komentar

Postingan Populer